Tujuhbelasan menghampiri malam mingguku 2008
Merenung disini tanpa banyak makna
Bagaimana bisa bilang merdeka…
Merdeka itu jika hanya takut kepada Allah dan rosul-Nya saja
Sedang aku belum merdeka
Tujuhbelasan menghampiri malam mingguku 2008
Merenung disini tanpa banyak makna
Bagaimana bisa bilang merdeka…
Merdeka itu jika hanya takut kepada Allah dan rosul-Nya saja
Sedang aku belum merdeka
jalan yang indah
tanpa perlu tau semua
tanpa perlu banyak cerita
jalani saja
akan tersingkap
bila Sang Pembuka hijab membuka
hilanglah ia
puasaku puasa bisu
tak ada tema yang keluar dan tersampaikan
hanya berkeliling diufuk fikir
sesekali keluar dalam ulir ukir
kini saat berbuka
ungkapkan kata bermakna
jauhkan diri dari sia-sia
sampaikan dengan lantang bersahaja
bahwa kau bisa
dengan izin dan ridho-Nya
wassalam 
harap itu cemas
saat ia datang, aku jadi riang
saat ia pergi, hati jadi bimbang
saat ia jauh, hati tetap terngiang
luruh aku dalam gambarnya
hadirnya di depan pelupuk mata…
Salam
kalau jodoh tak ‘kan kemana…
kalau lah bukan jodoh suka kemana-mana…
cenderungkan aku dengan jodohku ya Allah
Salam
santun tersipumu
menghiasi warna batinmu
menghembuskan angin sejuk
menerpa asa jiwa
kidung itu pun bernyanyi
walau sedih diri ini sendiri
mengenang semuanya tentang dia
bergelora rindu di dada
akankah kutemukan sosok ia
mengisi kembali relung jiwa
menghiasi seluruh asa
penuh harap yang tiada tara
oh… rindu mengapa harus yang ini
mengapa datang membayangi pandangan mata khayalku lagi
( buat yang lagi rindu aj-ja. salam
)
sore ini
adakah diantara kalian
yang berbicara serasa tempe goreng
memberikan wejangan sesegar dewegan
mak nyesss
ya sudahlah
memang mesti tunggu waktu
diisi dengan ini itu
ya kan kudu begitu
(selamat menunggu azan maghrib romadon ini
wassalam)
aduhai
aku yang berilmu padi…
makin kosong
makin tegak berdiri!
awalnya menerima
tanpa sanggah tanpa tanya
berikutnya mencoba
menjalani menyelami
tengahnya tengok kanan kiri
ternyata tidak satu tetapi bermacam cara
esoknya timbang sana timbang sini
bersiap berbenah diri
akhirnya memilih
menggabungkan apa yang mesti
salam.
bagaimana tidak terpana
baru saja melihat diri
ketika amal, ilmu, akal, hati, jiwa, rasa, rafsu, qalbu hadir dihadapan
ketika sinar menerpanya berpendarlah …
siapa yang tidak menyaksikan ini
sedang itu bagian yang dekat
bagaimana mengingini yang dianggap jauh di atas sana
padahal ia tidak terkena sifat perubahan dan fana
Dia tak membutuhkan jarak untuk disebut dekat
Dia tak bersinggungan karena bukan benda
Dia bukan ruh karena bukan isi
Dia tidak diisi karena Dia bukan tempat
sungguh sifat yang tidak bisa disifat
hanya Dialah yang tau
tauku hanya sedikit yang Dia izinkan
tauku hanya sekehendak Ar-Rohman
tak berani lagi aku kini
tak kuat lagi aku kini
tak sanggup lagi aku kini
kecuali dengan keinginan-Nya
hidup mati adalah milik-Nya
hanya mengingini jauh dekat dianggap sama
ada dan tiada, tidak berbeda
semoga jalan ini dalam ridho-Nya.
salam.
Dalam tidurku…
Kulihat ia sesosok tubuh wayang yang ringkih
Tergeletak bergulingan kekanan dan kekiri
Sosok kuning langsat lelaki ideal
Tetapi tetaplah berwujud wayang
Ku angkat kepalanya diatas kedua sila kakiku
Ku bacakan solawat ke kupingnya hingga tiga kali
Solawat yang separuhnya aku tidak pernah baca sebelumnya
Sekian lama aku abaikan …
Dalam tidurku…
Kulihat gadis yang selalu diiringi
Kemanapun aku pergi ia selalu hadir
Secepat apapun aku perlari
Sedalam apapun aku terjatuh
Berdua mereka selalu beriringan hadir untukku
Kalau ditengah kumpulan lelaki
Tetap saja ia hanya mau denganku
Bercakap tentang hal yang menyenangkan
Makin kutatap wajahnya makin indah elok rupanya
Manusiakah atau apa gadis ini?
Yang satu ini tidak bisa ku abaikan …
Setelah solat awal malamku
Makin menjadi kegundahan pikiranku
Apa arti semua itu?
Bukannya zikir dan do’a, malah merebahkan diri
Berguling kekanan dan kekiri!
Beberapa saat bagai tak sadar diri …
Ingat lagi dan menjalani apa yang mesti …
Malam itu guruku cerita laduni
Dikira akan diberi
Eh, hanya bercerita sang penggembala
Bukan yang susah dengan puasa 40 harinya
Tapi yang mudah dengan solawat 70 untuk 70 jum’atnya!
Oh, ternyata ini sang kekasihku
Sebuah do’a bagi nabiku
Lengkap sudah separuh yang tidak pernah aku baca dulu
Ia tuliskan untukku
Terima kasih untuk Abdul Hamid guruku
lihatlah burung itu telah melayang
suatu saat akan kembali pulang
menukik membawa apa yang ada
dengan cara apa pun jua
memang bukan sekedar harap
perlu cari tau apakah sebab
ditilik dengan hati
diraba dengan rasa
hitunglah kepakannya
betapa banyak usahanya
disetiap ada sempat dan saat
tetap saja ia lantunkan kicau rahasianya
perlu faham tentang takdir
menimbang isi dengan takaran
kalimat apa yang telah terlontar
itukah kata-kata yang telah menjadi do’a
bulu di sayap ia helai dengan paruhnya
sebelum dan sesudah kelananya
satu per satu ia rapihkan susunannya
kini nampak bagus corak warna bulunya
gumamanmu adalah kata-kata
walau aku tidak mendengarnya
pasti ada satu yang selalu mendengarnya
janganlah lengah mengawasinya
sang burung tiada putus asa
mengitari padang mencari hajatnya
mengepak sayap menerjang angin
lalu-lalang di tepian sungai
aku ada disini
dikelilingi oleh puluhan cerita
entah baik atau buruk
hanya berusaha menikmatinya
kicau riuhnya kian meredup
saat sang burung melihat lembayung senja
saatnya merebahkan diri bersama alam
kembali hening dalam pangkuan
sadarmu adalah kumpulan rasa
bekalmu yang utama
terima kasih kepada Sang Pencipta rasa
kini kau diminta untuk mengingat-Nya
Salam.