Archive for the ‘Puisi’ Category

Berlalu

December 23, 2006

telah ku garami sang hidup
mempersiapkan hidangan yang sedap

telah ku bumbui sang rasa
menjadikan diri tiada tara

telah ku cicipi sang alam
membuat jiwa terdiam

telah ku hidangkan sang amal
ternyata banyak yang kumal

ah…
kalimat ini bersama asa yang tersisa
berusaha memperbaiki citra
menghalusi sang rasa
diam terpaku mencari cara
semoga jalan itu dekat dan ada

salam

Hei Akal! Kau Kah Itu?

December 23, 2006

Saatnya semua berkumpul
Ada hal yang perlu diputuskan
Maka ajukan pendapat kalian…

Aku setuju!
Aku tidak setuju!

Apa alasanmu…?
Inilah ilmunya!
Akupun juga, itulah ilmunya!

Begitulah alam ini…
Semua berbicara dengan izin-Nya
Hingga turunlah keputusan
Melalui sang akal
Semua tunduk dalam wilayah kerajaan
Mau apa lagi…
Sudah diputuskan

Salam.

Perjalanan Diri

December 23, 2006

Sekian tahun aku cari
Kejelasan arti dari mengerti
Hingga letih kian menghantui
Apakah cukup sampai disini

Hilang semua harap ini
Fana sirna tanpa perlu menanti
Kini hadirlah ia dalam lubuk hati
Sinar jernih saling mengisi

Akankah kuat jiwa menanti
Dambaan terasa jauh hingga mati

Salam.

Perjalanan

November 28, 2006

Telah ku garami sang hidup
Mempersiapkan hidangan yang sedap

Telah ku bumbui sang rasa
Menjadikan diri tiada tara

Telah ku cicipi sang alam
Membuat jiwa terdiam

Telah ku hidangkan sang amal
Ternyata banyak yang kumal

Ah…
Kalimat ini bersama asa yang tersisa
Berusaha memperbaiki citra
Menghalusi sang rasa
Diam terpaku mencari cara
Semoga jalan itu dekat dan ada

Memandang Diri

November 19, 2006

Telah berlalu orang-orang dihadapan
Dalam kotak cembung atau datar menyuguhkan bacaaan
Tetapi apa yang terjadi…
Masing-masing memandang dirinya sendiri
Tidak disadari aku juga sedang memandangi…

Peperangan yang menganga…
Membuat bimbang bagi yang goyah
Membuat kuat bagi yang kokoh
Membuat bengis bagi yang mendua
Membuat rusak bagi yang serakah
Membuat jernih bagi yang sempurna

Palingkanlah dari diri
Kembali ihsan memandangi
Masing-masing telah diberi tahu apa yang dicari
Masing-masing sedang memilih apa yang dianggap berarti
Maka bergulirlah waktu dan kesempatan ini

Kosong

November 19, 2006

Pernahkah kau bayangkan hilangnya rasa untuk selamanya?
Tak kuat aku memikirkannya!
Dimana aku …

Jalan Dua

November 18, 2006

Hidup adalah perjalanan
Dengan umur sebagai jaraknya

Pilihan utama ada dua
Terserah apa yang Anda jaga
Tapi tujuan juga dua
Yang pasti sejajar dengan upaya
Baik menurut Ilahi dengan surga-Nya
Buruk menurut Ilahi dengan neraka-Nya

Jangan tertipu jangan terlena
Di kiri kanan jurang menganga
Sang jabariah dengan pasrahnya
Sang qodariyah dengan usahanya

Semoga jalan keteguhan bersama Anda.

Baru dan Ada

November 18, 2006

Tetapi bagaimanapun …
Selain Tuhan adalah baru
Sedang Engkau tak ‘kan pernah berubah
Aku lah yang berubah …

Suka atau terpaksa
Tunduk dalam segala hal
Dalam kuasa-Mu, Ya Jabbar …

Tidak lah Engkau lupa
Maka aku mengharapkan Engkau
Menjadikan aku ingat dan sadar:
Bahwa Engkau tidak pernah lupa;
Bahwa Engkau selalu menyaksikan

Maka jangan Engkau jadikan sepi …
Hati ini yang selalu Engkau menyaksikan
Gantilah prasangkaku kepada-MU menjadi keyakinan
Agar selalu ingat:
Bahwa sebelumnya aku ini tidak ada
Agar lebar jalan ku dalam mensyukuri ni’mat:
Bahwa aku ada

Semoga keinginan yang baik
Bersama dengan amal yang sempurna.

Kembali

November 18, 2006

Sejauh hati menerawang
Ketika yang diingin sesuatu yang ‘kan hilang
Menyesakkan memilukan
Bagaimana tidak jika telah hadir kesadaran

Ni’mat kita merasakan
Tidak sadar tidak pula istigfar
Yang ada hanya tidur panjang
Yang kembali terus berputar

Maka saat ini moga turun yang dinanti
Saat yang baik untuk memulai
Berkas jelas memenuhi jiwa
Membuka tabir yang memperdaya

Hidup mati ini milik-Mu, ya Rohman
Maka jangan singgahkan rasa kehilangan
Karena takdir telah digoreskan
Berusaha menerima dengan gembira nan riang

Penghayatan

November 18, 2006

Kita harus berkorban! Memberikannya kepada-Nya, katanya…
Yang lain berkata: semuanya milik Allah! Apa yang akan kita berikan???
Lima detik diam termangu . . . . .
Maka muncul seribu kata, tapi kan …
Ternyata dia kembali ke sedia kala

Kidung

November 18, 2006

Sejatinya kidung, mengalun dalam diri
Mengalir memenuhi, tiap rongga yang ada
Semuanya bermakna, tidak ada yang tersisa
Saling menunjang, tidak saling mencela

Yang kalian lihat, seakan berbeda sifat
Ketika halnya, kalian pisah-pisahkan
Sementara Sang Pencipta, telah menundukkan
Berdampingan akur, selaras saling menjaga

Kalian lihat api, itu menyala
Membakar jiwa, membakar raga
Kalian lihat air, mengalir bening
Membasuh jiwa, menjaga raga

Jangan terlalu, dalam menilai
Mungkin yang terlihat, tidak lah sama
Maka cobalah membaca, bertanya padanya
Siapa tau hadir, ia ungkapkan rahasia

Tinggalkan umpatan, yang tidak terasa
Membicarakan teman, bagaikan lawan
Maka tuduhan buruk, malah jatuh dipangkuan
Disangka beruntung, malah terhina dan terbuang

Ketahui musuhmu, dia paham halmu
Kekurangan dan kelebihan, menjadi kendaraan
Maka kembalilah, menjaga lisan
Perkataan yang lahir, juga yang batin

Hanya dengan tuntunan, kembali ke hadapan
Yang telah mencipta, Yang telah memberi rasa
Meminta ampun, meminta anugrah
Maka serahkan semua, dengan keikhlasan

(Untuk orang yang tak mau mendengarkan)

KASAB DAN IRADAT

November 18, 2006

Dengan mengagungkan asma-Nya
Kita tetap dapat bertahan

Dengan segala kemurahan yang selalu dicurahkan
Kita selalu merasakan kenikmatan

Dengan segala kasab yang selalu mengiringi perjalanan
Kita ikuti segala kudrat-iradat Ar-Rahman

Nabi Muhammad tak mempunyai jasa kepada Allah
Tetapi sebagai ciptaan-Nya Muhammad dihargai
Namanya selalu mengiringi asma Allah
Sebagai tanda penghargaan dari-Nya

Kesaksian diri kepada Allah tidak sempurna
bila kesaksian kepadanya tidak dilakukan
Karena ini lah syahadat berjumlah dua
Syahadat tauhid dan syahadat rasul

Syahadat tauhid sebagai kesaksian diri terhadap Allah
Bahwa tak ada tuhan selain diri-Nya
Syahadat rasul sebagai kesaksian diri kepada Muhammad
Bahwa ia adalah utusan-Nya
Keduanya disebut Syahadatain

Sebagai tanda kesempurnaan
Ucapkan syahadatain sebagai kesaksian jiwa